Home » » Aliran Uang Pungli di Jembatan Maccopa, Rp5 Juta per-Hari juga Libatkan Oknum Wartawan

Aliran Uang Pungli di Jembatan Maccopa, Rp5 Juta per-Hari juga Libatkan Oknum Wartawan


MACCANEWS - Terbongkarnya kasus pungutan liar (Pungli) di jembatan timbang Maccopa Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, oleh Operasi Tangkap Tangan (OTT) Polda Sulsel beberapa hari yang lalu, nama baik LSM dan Pers kembali tercoreng.

Pasalnya, Hasanuddin selaku salah seorang pelaku yang diamankan pada operasi tangkap tangan tersebut, membeberkan adanya keterlibatan LSM dan Wartawan yang ikut menikmati uang pungli yang merugikan negara hingga Rp 3,6 miliar.

Hasanuddin yang juga berstatus PNS di Dinas Perhubungan (Dishub), mengaku dalam setiap harinya menghabiskan uang Rp 5,1 Juta untuk membayar honorer, Staff Dishub, Wartawan dan LSM untuk melicinkan kejahatannya.

Adanya dugaan keterlibatan LSM dan Wartawan ini, mengundang segenap insan pers di Kabupaten Maros untuk angkat bicara. Seperti dengan apa yang dilakuakan oleh Maros Journalist Solidarity (Majourity).

Majourity mendesak Polda Sulsel maupun Polres Maros untuk segera turun tangan mengusut keterlibatan oknum LSM dan wartawan yang disuap oleh petugas jembatan timbang Maccopa Maros, Sulawesi Selatan.

Koordinator Majourity, Muh Bakri meminta kepolisian agar memperjelas oknum yang dimaksud oleh petugas jembatan timbang milik Dishub Provinsi Sulsel, Hasanuddin yang menyebut keterlibatan oknum LSM dan wartawan saat melakukan pungutan liar (pungli). Minggu (24/10/2016)

"Kami mendesak polisi untuk mengusut keterlibatan oknum wartawan yang ditempati menyetor sejumlah uang. Jangan sampai ini memecah belah wartawan profesional di Maros," ungkapnya.

Apalagi, saat ini wartawan saling mencurigai setelah Hasanuddin membeberkan setoran yang dilakukan setiap harinya kepada oknum yang dimaksud.

Bakri meminta, supaya polisi tidak tebang pilih untuk menetapakan tersangka. Seharusnya, oknum tersebut juga ditersangkakan karena telah menerima suap untuk menyembunyikan pungli jembatan timbang.

"Kami wartawan yang benar- benar mencari berita merasa dirugikan oleh oknum pungli itu. Masyarakat akan memandang buruk kami, jika oknum itu tidak usut. Polisi harus perjelas oknumnya," ujarnya.

Wartawan harian yang bergabung di Majourity meminta masyarakat untuk tidak menyamakan semua pencari berita. Pasalnya, kadang ada oknum yang memang sengaja mengaku wartawan untuk memperlancar aksinya. (Aam/mar)